Rabu, 20 Oktober 2010

Deloitte

Deloitte Touche Tohmatsu Limited merupakan salah satu organisasi pelayanan terbesar di dunia. Menurut situs organisasi tahun 2010.Deloitte memiliki sekitar 170.000 staf yang bekerja di 140 negara. Memberikan jasa audit, pajak , konsultasi, risiko perusahaan, dan jasa penasihat keuangan melalui perusahaan-perusahaan anggotanya.
kantor pusat Perusahaan berlokasi di Paramount Plaza, Midtown Manhattan, New York City, New York

Sejarah
Pada tahun 1845 William Welch Deloitte membuka kantor di Basinghall Street di London. Deloitte adalah orang pertama yang akan ditunjuk auditor independen dari sebuah perusahaan publik. Ia melanjutkan untuk membuka kantor di New York pada tahun 1880.

Pada tahun 1895 Charles Waldo Haskins dan Eijah Watt Menjual terbentuk Haskins & Sells di New York.

Pada tahun 1898 George Touche mendirikan sebuah kantor di London dan kemudian pada tahun 1900 bergabung dengan Yohanes Ballantine Niven dalam membangun perusahaan dari Touche Niven di Gedung Johnston pada 30 Broad Street di New York. Pada waktu itu,. Ada kurang dari 500 CPA berlatih di Amerika Serikat, tetapi era baru pajak penghasilan segera untuk menghasilkan permintaan yang sangat besar bagi para profesional akuntansi.

Pada tanggal 1 April 1933, Kolonel Arthur Hazelton Carter, Presiden dari New York State Masyarakat Akuntan Publik dan Managing Partner dari Haskins & Sells, bersaksi di depan Komite Senat AS pada Perbankan dan mata uang. Carter membantu meyakinkan Kongres bahwa audit independen harus menjadi kewajiban bagi perusahaan publik.

Pada tahun 1947, Detroit akuntan George Bailey, presiden dari American Institute Akuntan Publik, meluncurkan organisasi sendiri. Entitas baru menikmati seperti awal yang positif bahwa dalam waktu kurang dari setahun, para mitra bergabung dengan Touche Niven dan AR Pintar untuk membentuk Touche, Niven, Bailey & Smart. Dipimpin oleh Bailey, organisasi tumbuh pesat, sebagian dengan menciptakan fungsi manajemen konsultasi khusus. Hal ini juga menjalin hubungan yang lebih erat dengan organisasi yang didirikan oleh pendiri-ko Touche Niven, George Touche:. Organisasi Ross Kanada dan organisasi Inggris George A. Touche. Pada tahun 1960, perusahaan ini berganti nama Touche, Ross, Bailey & Smart , menjadi Touche Ross pada tahun 1969

Merger

Pada tahun 1952 bergabung dengan Deloitte Haskins & Sells untuk membentuk Deloitte, Haskins & Sells. Pada tahun 1968 Nobuzo Tohmatsu. Dibentuk Awoki Tohmatsu & Co, sebuah perusahaan yang berbasis di Jepang yang menjadi bagian dari jaringan Touche Ross pada tahun 1975. Pada tahun 1972 Robert Sejati, Ketua Touche Ross, memimpin komite yang bertanggung jawab untuk merekomendasikan pembentukan Dewan Standar Akuntansi Keuangan. Ia memimpin ekspansi Touche Ross di era itu.

Pada tahun 1982, David Moxley dan W. Grant Gregory menjadi pemimpin di Touche Ross. Pada tahun 1985, Edward A. Kangas, seorang konsultan manajemen, diangkat mengelola mitra Touche Ross. Pada tahun 1984, J. Michael Cook menjadi mengelola mitra Deloitte, Haskins & Sells.

Pada tahun 1989 Deloitte Haskins & Sells di Amerika Serikat bergabung dengan Touche Ross di Amerika Serikat untuk membentuk Deloitte & Touche. Perusahaan gabungan dipimpin bersama oleh J. Michael Cook dan Edward A. Kangas. Dipimpin oleh kemitraan Inggris, sejumlah kecil perusahaan-perusahaan anggota Deloitte Haskins & Sells menolak merger dengan Touche Ross dan tidak lama kemudian bergabung dengan Coopers & Lybrand untuk membentuk Coopers & Lybrand Deloitte (kemudian untuk bergabung dengan Price Waterhouse untuk menjadi PwC). perusahaan anggota Beberapa Touche Ross juga menolak merger dengan Deloitte Haskins & Sells bergabung dengan perusahaan lain.

Recent history

Pada saat merger yang dipimpin AS membentuk Deloitte & Touche, nama perusahaan internasional masalah, karena tidak ada akses eksklusif seluruh dunia untuk nama "Deloitte" atau "Touche Ross" - perusahaan-perusahaan anggota kunci seperti Deloitte di Inggris dan Touche Ross di Australia tidak bergabung merger. Nama DRT Internasional Oleh karena itu dipilih, mengacu pada Deloitte, Ross dan Tohmatsu. Pada tahun 1993 perusahaan ini berganti nama internasional Deloitte Touche Tohmatsu untuk mencerminkan kontribusi dari perusahaan Jepang serta perjanjian untuk menggunakan kedua dari Deloitte Touche nama dan..

Pada tahun 1995, para mitra dari Deloitte & Touche memutuskan untuk membuat Deloitte & Touche Consulting Group (sekarang dikenal sebagai Deloitte Consulting).

Pada tahun 2002, Arthur Andersen praktik Inggris, praktik perusahaan terbesar di luar AS, setuju untuk bergabung dengan latihan Inggris Deloitte. praktek Andersen di Spanyol, Belanda, Portugal, Belgia, Meksiko, Brazil dan Kanada juga setuju untuk bergabung dengan Deloitte. spin off divisi konsultasi Deloitte Prancis menyebabkan penciptaan Ineum Consulting.

Pada tahun 2009, Deloitte dibeli Amerika Utara praktek Publik Dinas BearingPoint (sebelumnya KPMG Consulting) setelah mengajukan perlindungan kebangkrutan Perusahaan juga mengambil alih konsultan properti Inggris Driver Jonas pada Januari 2010.

Struktur Global

Selama bertahun-tahun, organisasi dan jaringan perusahaan anggota ini secara hukum diatur sebagai Swiss Verein. Pada tanggal 31 Juli 2010, anggota Verein menjadi bagian dari Deloitte Touche Tohmatsu (DTTL), sebuah perusahaan swasta di Inggris, terbatas dengan jaminan. Setiap perusahaan anggota dalam jaringan global tetap berdiri sebagai badan hukum yang terpisah dan independen, tunduk pada hukum dan peraturan profesional dari negara tertentu atau negara tempatnya beroperasi.

Sebagai entitas yang terpisah dan hukum, perusahaan anggota dan DTTL tidak dapat mewajibkan satu sama lain. Jasa profesional terus disediakan oleh perusahaan-perusahaan anggota saja dan tidak DTTL.

Nama & Merk

Sedangkan pada tahun 1989, di kebanyakan negara, Deloitte, Haskins & Sells bergabung dengan Touche Ross membentuk Deloitte & Touche, di Inggris perusahaan lokal dari Deloitte, Haskins & Sells bergabung bukan dengan Coopers & Lybrand (yang saat ini PwC). Untuk beberapa tahun setelah merger, perusahaan gabungan Inggris disebut Coopers & Lybrand Deloitte dan perusahaan lokal Touche Ross tetap memakai nama aslinya. Pada pertengahan 1990-an Namun, kedua perusahaan Inggris mengubah nama mereka untuk cocok dengan masing-masing organisasi internasional.

Sedangkan nama lengkap perusahaan swasta Inggris Deloitte Touche Tohmatsu Limited, pada tahun 1989 awalnya bermerek sendiri DRT Internasional. Pada tahun 2003 kampanye rebranding ditugaskan oleh Bill Parrett, kemudian CEO DTT, dan dipimpin oleh Jerry Leamon, Klien global dan pemimpin Pasar.

Menurut website perusahaan, Deloitte sekarang mengacu pada merek di mana puluhan ribu profesional yang berdedikasi di perusahaan independen di seluruh dunia bekerja sama untuk memberikan audit, konsultasi, penasehat keuangan, manajemen risiko, dan layanan pajak untuk klien yang dipilih.

Pada tahun 2008, Deloitte mengadopsi baru "Selalu One Step Ahead" (AOSA) merek platform positioning untuk mendukung visi Deloitte yang ada: "Menjadi Standar Excellence". AOSA merupakan proposisi nilai organisasi global, dan tidak pernah digunakan sebagai tagline. Peluncuran terbaru dari kampanye iklan Dot Hijau juga sejalan dengan strategi merek Deloitte dan kerangka positioning. Saat ini, kampanye tersebut menghasilkan brand awareness eksternal dan pengakuan untuk Deloitte dengan menyoroti berbagai perusahaan jasa profesional kepada klien di seluruh dunia.

sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Deloitte

Read More......

Ernst & Young

Ernst & Young

Ernst & Young (EY atau E&Y) adalah perusahaan jasa profesional yang merupakan salah satu dari the Big Four auditors, bersama dengan PricewaterhouseCoopers (PwC), Deloitte Touche Tohmatsu (Deloitte), dan KPMG.

Ernst & Young merupakan perusahaan global yang terdiri dari sejumlah perusahaan anggota. EY Global bermarkas di London, EY AS di New York, dan EY Indonesia di Jakarta.

Sejarah
Amerika Serikat dan Britania Raya

Perusahaan (persekutuan/perserikatan) ini merupakan hasil dari serangkaian merger dari perusahaan-perusahaan pendahulunya. Persekutuan tertua didirikan pada tahun 1849 di Inggris dengan nama Harding & Pullein.[1] Pada tahun itu juga, Frederick Whinney bergabung. Dia kemudian menjadi partner pada tahun 1859. Pada tahun 1894, seiring dengan bergabungnya anak-anaknya, persekutuan tersebut berganti nama menjadi Whinney, Smith & Whinney.[1]

Pada tahun 1903, perusahaan Ernst & Ernst didirikan di Cleveland oleh Alwin dan Theodore Ernst. Pada tahun 1906, Arthur Young & Company didirikan di Chicago oleh Arthur Young.[1]

Pada awal tahun 1924, perusahaan-perusahaan AS tersebut beraliansi dengan perusahaan dari Britania Raya, Young dengan Broad Paterson & Co, dan Ernst dengan Whinney, Smith & Whinney. Pada 1979, Ernst & Whinney terbentuk dan menjadi firma akuntansi keempat terbesar di dunia.[1] Pada tahun 1989, peringkat empat bergabung dengan peringkat lima, Arthur Young, sehingga tercipta Ernst & Young ("EY")

Indonesia

Di Indonesia, EY berafiliasi dengan Kantor Akuntan Publik Purwantono, Suherman & Surja (PSS). Klien utama Ernst & Young antara lain Pertamina, Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), PT Krakatau Steel & Group, Coca Cola Bottling Indonesia & Indosat

Struktur global

Setiap negara anggota EY dikelola sebagai bagian dari salah satu dari lima wilayah:

* Eropa, Timur Tengah, India & Afrika (EMEIA)
* Amerika
* Timur Jauh
* Oseania
* Jepang

Setiap wilayah memiliki sebuah tim manajemen tunggal, dipimpin oleh seorang Area Managing Partner yang duduk dalam Dewan Eksekutif Global (Global Executive Board). Seluruh wilayah mengintegrasikan model bisnis mereka

Lini jasa dan pertumbuhan

EY memiliki empat lini jasa utama:

* Assurance, yaitu audit keuangan (assurance pokok) yang menyumbangkan 54% dari total pendapatan pada 2007.
* Tax, meliputi Business Tax Compliance, Human Capital, Indirect Tax, International Tax Services, Tax Accounting & Risk Advisory Services, dan Transaction Tax, dengan kontribusi pendapatan pada 2007 sebesar 22%.
* Transactions meliputi due diligence komersial, keuangan, real estat, dan pajak, merger & akuisisi, penilaian & pemodelan bisnis, restrukturisasi korporasi, dan jasa integrasi. Dikenal sebagai Transaction Advisory Services (TAS).
* Advisory, meliputi Technology and Security Risk Services (TSRS), Fraud Investigation and Dispute Services (FIDS), dan Business Risk Services (BRS). Sebelumnya lini jasa ini disatukan dengan Assurance dalam Assurance and Advisory Business Services (AABS). Lini jasa ini menyumbangkan 12% pendapatan pada 2007.

Bisnis jasa konsultasi EY berkembang sangat pesat selama tahun 1980-an dan 1990-an. Oleh karenanya U.S. Securities and Exchange Commission (Bapepam Amerika Serikat) dan anggota komunitas investasi sangat mengkhawatirkan kemungkinan terjadinya konflik kepentingan antara jasa konsultasi dan audit. Namun demikian, EY adalah yang pertama dari the Big Four auditors yang kemudian secara resmi melakukan pemisahan secara penuh atas kegiatan bisnis sistem integrasi dan praktek auditnya.

Klien audit global besar

Ernst & Young adalah auditor dari banyak perusahaan utama di Fortune 1000 seperti AOL Time Warner, Wal-Mart, Amazon.com, 3M, Oracle, McDonald’s, Google, Intel, Hewlett-Packard, Coca-Cola, dan Verizon.

Read More......

Sabtu, 17 April 2010

PI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Sekarang masyarakat sudah mulai melirik pasar modal. Karena pasar modal sudah dianggap sebagai sebuah sarana efektif untuk membangun suatu bangsa, hal ini dimungkinkan karena pasar modal merupakan wahana yang dapat menggalang pengerahan dana jangka panjang dari masyarakat untuk disalurkan ke sektor produktif.
Ada pepatah yang mengatakan “ Apabila ingin mendapatkan keuntungan yang tinggi, maka ia juga harus menanggung resiko yang tinggi pula” di dalam pasar modal hal ini berlaku tetapi kita dapat meminimalisasikan dengan memahami proses investasi mulai dari ekuitas apa yang akan dipilih, berapa banyak, dan kapan investasi tersebut akan dilakukan.
Investor akan menanamkan investasinya pada perusahaan yang dianggap dapat memberikan keuntungan. Perusahaan yang terdaftar di BEJ akan selalu dinilai perkembangannya oleh investor dan calon investor. Disini para investor dan calon investor dapat menilai apakah perusahaan tersebut memiliki prospek yang baik dimasa depan atau tidak.
Harga saham merupakan indikator adanya keberhasilan manajemen dalam mengelola perusahaan. Jika harga saham suatu perusahaan selalu mengalami kenaikan, maka investor atau calon investor menilai bahwa perusahaan berhasil dalam mengelola usahanya. Kepercayaan investor atau calon investor sangat bermanfaat bagi emiten, karena semakin banyak orang yang percaya terhadap emiten maka keinginan untuk berinvestasi pada emiten tersebut semakin kuat. Menurut teori, semakin banyak permintaan terhadap saham suatu emiten maka akan menaikkan harga saham emiten tersebut. Jika harga saham yang tinggi dapat dipertahankan maka kepercayaan investor atau calon investor terhadap emiten juga semakin tinggi, dan hal ini menaikkan nilai emiten. Sebaliknya jika harga saham selalu mengalami penurunan terus menerus berarti pula akan menurunkan nilai emiten di mata investor atau calon investor.
Investasi saham sangat rentan terhadap situasi politik dan ekonomi. Bursa saham akan bereaksi negatif bila terjadi kemelut politik dalam negeri seperti kerusuhan massa dan aksi demonstrasi. Kejadian ini harus selalu diantisipasi investor guna menghindari kerugian di bursa saham. Kerusuhan di daerah saat ini merupakan salah satu bukti nyata betapa kemelut politik memang tidak menguntungkan bursa.. Keadaan seperti ini menyebabkan hilangnya kepercayaan investor luar negeri terhadap bangsa Indonesia sehingga mereka enggan menanamkan modalnya di Indonesia.





Menurut Sutojo dan Suprapto dalam Anoraga bahwa pasar modal Indonesia yang memiliki efisiensi pasar bentuk lemah, dimana harga mencerminkan semua informasi yang ada pada catatan harga di waktu yang lalu, yang memiliki implikasi bahwa analisis sekuritas didasarkan atas perubahan harga di masa yang lalu tidak dapat memprediksi harga di masa yang akan datang. Oleh karena itu, dalam menilai suatu saham, investor melakukan pendekatan fundamental yaitu pendekatan yang didasarkan pada informasi yang diterbitkan oleh perusahaan yang go public. Dalam hal ini yang dinilai investor adalah kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba dan keuntungan yang diperoleh investor tercermin pada laba bersih per saham.
Untuk memilih sekuritas mana yang akan dipilih dan perusahaan mana yang cocok untuk berinvestasi, investor harus mengetahui faktor yang mempengaruhi harga saham factor yang mempengaruhi harga saham antara lain: kondisi fundamental perusahaan, hukum permintaan dan penawaran, tingkat suku bunga, kurs valuta asing, dana asing di bursa, indeks harga saham, news and rumors, devidend, laba perusahaan, dan faktor lain. Faktor fundamental merupakan faktor yang berkaitan dengan kinerja perusahaan itu sendiri. Harga suatu sekuritas akan dipengaruhi oleh kinerja perusahaan (misal tingkat penjualan dan laba usaha). Kinerja perusahaan itu sendiri akan dipengaruhi oleh kondisi industri dan perekonomian secara umum. Dalam penelitian ini penulis hanya membatasi pada kondisi fundamental perusahaan saja. Jika dilihat dari pendekatan fundamental nilai suatu sekuritas akan sangat dipengaruhi oleh Earnings Per Share (EPS) dan pertumbuhan penjualan.
Earnings Per Share (EPS) adalah laba per lembar saham. EPS menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba untuk tiap lembar saham. EPS diperoleh dari laba setelah pajak dikurangi dividend saham preferen (laba yang tersedia bagi pemegang saham biasa dibagi dengan jumlah rata-rata lembar saham yang beredar). Jika EPS tinggi maka investor akan menilai bahwa emiten memiliki kinerja yang baik.
Pertumbuhan penjualan merupakan perubahan penjualan pertahun. Jika pertumbuhan penjualan pertahun selalu naik maka perusahaan memiliki prospek yang baik di masa datang. Kemampuan perusahaan untuk mempertahankan EPS yang tinggi berarti akan meningkatkan kepercayaan investor pada perusahaan dan akan menaikkan harga saham. Bila EPS tinggi, pengharapan investor untuk memperoleh devidend tinggi akan terwujud. Sebelum investor memutuskan untuk membeli saham, investor perlu juga melihat bagaimana pertumbuhan penjualan suatu emiten. Jika keduanya selalu menunjukkan perkembangan yang positif atau terus meningkat dari tahun ke tahun berarti emiten tersebut memiliki prospek untuk berkembang di masa datang dan ini merupakan salah satu penyebab investor percaya pada emiten atau perusahaan. Atas dasar alasan tersebut, maka menarik perhatian untuk diteliti mengenai “ Pengaruh Earnings Per Share (EPS), dan Pertumbuhan Penjualan terhadap Perubahan Harga Saham pada Perusahaan Makanan dan Minuman yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ)”.





1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan alasan pemilihan judul di atas, maka permasalahan yang ingin dikaji adalah:
1. bagaimana pengaruh Earning per share (EPS) dan pertumbuhan penjualan terhadap perubahan harga saham
2. bagaimana pengaruh Earning per share (EPS) dan pertumbuhan penjual terhadap perubahan harga saham

1.3.Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. untuk mengetahui pengaruh Earning per share (EPS) dan pertumbuhan penjualan
2. untuk mengetahui pengaruh Earning per share ( EPS) dan pertumbuhan penjualan

1.4. Kegunaan Penelitian
Berdasarkan tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini, manfaat yang diharapkan adalah:

1. Bagi Penulis

Sebagai wahana latihan pengembangan kemampuan dalam bidang peneliltian dan penerapan teori yang telah diperoleh di bangku kuliah.

2. Bagi Investor

Sebagai dasar pengambilan keputusan sehubungan dengan portofolio investasi di pasar modal. Dengan mempertimbangkan faktor fundamental, investor dapat memprediksi secara optimal.

Read More......

Senin, 01 Maret 2010

Jurnal Akuntansi FE Unsil, Vol. 2, No. 2, 2007 ISSN : 1907 – 9958
286
*) Penelitian ini merupakan penelitian yang dibiayai Proyek Pengkajian dan Penelitian Ilmu Pengetahuan
Terapan dengan surat perjanjian pelaksanaan penelitian nomor : : 120/SP3/PP/DP2M/II/2006, Direktorat
Pembinaan Penelitian Dan Pengabdian Pada Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen
Pendidikan Nasional Tahun 2006.
Pengaruh Kualitas Informasi Manajemen Terhadap Kinerja Manajerial
(Survey pada perusahaan go-publik di Jawa Barat) *)
Oleh :
Agus Widarsono
(Staf Pengajar Prodi Akuntansi Fakultas Pendidikan Ekonomi & Bisnis
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI BHMN) Bandung)
Abstract
Persaingan bisnis yang meningkat dewasa ini menuntut perusahaan untuk memanfaatkan kemampuan yang
ada semaksimal mungkin, agar unggul dalam persaingan. Keunggulan daya saing yang dapat diciptakan
oleh perusahaan dapat dicapai dengan salah satu cara, yaitu meningkatkan kinerja manajerial.
Dalam mencapai tujuan perusahaan diperlukan suatu sistem informasi yang terarah dan teritegrasi dengan
baik. Perencanaan sistem informasi merupakan bagian dari sistem pengendalian organisasi perlu
mendapatkan perhatian, sehingga bisa diharapkan memberikan kontribusi positif didalam mendukung
keberhasilan sistem pengendalian organisasi. Salah satu fungsi dari sistem informasi adalah menyediakan
informasi penting untuk membantu manajer mengendalikan aktivitasnya, serta mengurangi ketidakpastian
lingkungan, sehingga diharapkan dapat membantu perusahaan ke arah pencapaian tujuan dengan sukses
(Anthony et al, 1989; Atkinson et al, 1995). Informasi yang dihasilkan suatu sistem informasi merupakan
sumberdaya bagi organisasi, dimana informasi tersebut dapat mendukung manajemen dalam pengambilan
keputusan.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk, Apakah Karakteristik Informasi secara simultan berpengaruh
terhadap Kinerja Manajerial pada Perusahaan-perusahaan go-publik di Jawa Barat, Apakah Karakteristik
Informasi secara partial berpengaruh terhadap Kinerja Manajerial pada Perusahaan-perusahaan go-publik
di Jawa Barat.
Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 23 responden (manajer perencanaan keuangan) perusahaan
manufaktur go public menunjukan bahwa kualitas informasi dengan karakteristik Relevan, Keandalan,
Lengkap dan Ringkas, Tepat waktu, Dapat dipahami, dan Dapat diverifikasi, secara serempak berpengaruh
terhadap kinerja manajerial. Dan secara partial untuk variabel X1 sampai dengan X4 dikatakan terdapat
pengaruh tetapi tidak signifikan sedangkan X5 dan X6 dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh yang
signifikan.
Kata Kunci : Informasi, Kualitas Informasi, Kinerja Manajerial
I. Pendahuluan
Ramalan akan global village telah terwujud,
ditandai dengan perkembangan teknologi informasi
yang pesat mempengaruhi gaya dan kebiasaan sendi
kehidupan manusia termasuk sektor bisnis. Sehingga
paradigma bisnis semakin bergeser kepada arah
pencapaian keunggulan kompetitif dengan semakin
meningkatnya tingkat persaingan diantara para
pelaku bisnis.
Persaingan bisnis yang meningkat dewasa ini
menuntut perusahaan untuk memanfaatkan
kemampuan yang ada semaksimal mungkin, agar
unggul dalam persaingan. Keunggulan daya saing
yang dapat diciptakan oleh perusahaan dapat dicapai
dengan salah satu cara, yaitu meningkatkan kinerja
manajerial (Slater F., 1996).
Agus Widarsono ISSN : 1907 – 9958
Jurnal Akuntansi FE Unsil, Vol. 2, No. 2, 2007
287
Untuk dapat meningkatkan kinerja tersebut,
maka manajemen perlu memiliki kemampuan untuk
melihat dan menggunakan peluang,
mengidentifikasikan permasalahan, dan menyeleksi
serta mengimplementasikan proses adaptasi dengan
tepat. Manajemen juga berkewajiban
mempertahankan kelangsungan hidup (survive) serta
mengendalikan perusahaan (going concern).
Dalam mencapai tujuan tersebut diperlukan
suatu sistem informasi yang terarah dan teritegrasi
dengan baik. Perencanaan sistem informasi
merupakan bagian dari sistem pengendalian
organisasi perlu mendapatkan perhatian, sehingga
bisa diharapkan memberikan kontribusi positif
didalam mendukung keberhasilan sistem
pengendalian organisasi. Salah satu fungsi dari
sistem informasi adalah menyediakan informasi
penting untuk membantu manajer mengendalikan
aktivitasnya, serta mengurangi ketidakpastian
lingkungan, sehingga diharapkan dapat membantu
perusahaan ke arah pencapaian tujuan dengan sukses
(Anthony et al, 1989; Atkinson et al, 1995).
Informasi yang dihasilkan suatu sistem informasi
merupakan sumberdaya bagi organisasi, dimana
informasi tersebut dapat mendukung manajemen
dalam pengambilan keputusan. (Leitch, et al 1992).
Ukuran, bentuk, status, dan aktivitas
perusahaan yang semakin luas dan besar akan
memperkompleks permasalahan yang dihadapi oleh
perusahaan dan manajemen perusahaan itu sendiri.
Ditambah lagi tuntutan stakeholder agar adanya
transparansi aktivitas perusahaan. Untuk itu
diperlukan suatu sistem informasi yang dapat
mendukung keputusan yang diambil manajemen
sehingga diharapkan kinerja manajerial lebih baik.
Perusahaan yang telah go-publik seiring
dengan tujuan atau tuntutan transparansi dan
efisiensi dari stakeholder-nya tentu saja harus
merencanakan sistem informasinya yang dapat
menghasilkan informasi yang bermanfaat bagi
pengambilan keputusan yang dapat meningkatkan
kinerjanya.
Informasi yang tersedia dan digunakan
manajemen sangat membantu para manajer dalam
menyelesaikan tugasnya, sehingga diharapkan
kinerja akan meningkat. Seperti yang dinyatakan
oleh Atkinson et al (1995: 5) bahwa informasi yang
dihasilkan dari sistem informasi dapat digunakan
untuk mengukur kinerja ekonomi dari unit
organisasi dalam perusahaan. Romney et al, (1992
:14), menyatakan bahwa manfaat utama dari
informasi adalah mengurangi ketidakpastian,
mendukung keputusan, dan medorong lebih baik
dalam hal perencanaan dan penjadualan aktivitas
kerja. David Kroenke (1989 : 10) menyatakan
bahwa manajemen dalam menjalankan fungsi dan
aktivitas bisnisnya yang meliputi Planning
(Perencanaan), Organizing (Pengorganisasian),
Actuating (Pengarahan), dan Controlling
(Pengendalian), senantiasa memerlukan informasi
untuk membuat keputusan.
Berbagai karakteristik umum mengenai
karakteristik informasi yang baik banyak
dikemukakan oleh para ahli. Menurut Wilkinson
(1999:221) karakteristik informasi yang baik adalah
quantifiability, accuracy, aggregation, timeliness.
Warren and Fees (1992: 371) menyebut bahwa
karakteristik informasi yang baik adalah Relevance,
Timeliness, Accuracy, Clarity, Conciseness. Mc.
Leod (1994) menyebut informasi bermanfaat jika
informasi tersebut bersifat Accuracy, Timely,
Relevant, dan Complete. Sedangkan menurut
Romney (1997) menyebut Relevant, Reliable,
Complete, Timely, Understandble, dan Verifiable.
Penelitian yang dilakukan oleh Thansi
(2004), dengan menggunakan karakteristik informasi
(Relevan, Reliability, Comparability, Consistency,
dan Understandability) untuk mengukur kinerja
keuangan menunjukkan terdapatnya hubungan
antara karakteristik informasi yang digunakan
dengan kinerja keuangan perusahaan. Penelitian
yang dilakukan oleh Juniarti & Evelyn (2003) juga
menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang
signifikan antara karakteristik informasi (Scope,
Aggregation, Timeliness, dan Integration) dengan
kinerja manajerial. Penelitian Sinta Setiana (2004)
dengan menggunakan variabel dan indikator yang
sama dengan Juniarti & Evelyn (2003) juga
menunjukkan bahwa terdapatnya pengaruh antara
karakteristik informasi dengan kinerja manajerial.
Namun beberapa peneliti yang lain menyatakan
bahwa tidak terdapat hubungan langsung antara
karakteristik informasi dengan kinerja manajerial,
kalaupun terdapat hubungan hal tersebut dipengaruhi
oleh variabel konstektual (Gul, 1991; Chia (1995);
dan Nazarudin (1998).
Berdasarkan pada fenomena tersebut dan
ketidak konsitenan hasil penelitian terdahulu, maka
peneliti ingin menguji kembali pengaruh
Agus Widarsono ISSN : 1907 – 9958
Jurnal Akuntansi FE Unsil, Vol. 2, No. 2, 2007
288
karakteristik informasi terhadap kinerja manajerial
pada perusahaan-perusahaan go-publik yang ada di
Jawa Barat. Walaupun ada banyak karakteristik
informasi yang dikemukakan dan digunakan dalam
penelitian terdahulu, namun peneliti akan
menggunakan karakteristik informasi Relevant,
Reliable, Aggregation, Timely, Understandable, dan
Verifiable berdasarkan pertimbangan bahwa
karakteristik tersebut cukup mewakili dari beberapa
karakteristik yang dikemukakan dan digunakan
dalam penelitian terdahulu. Sedangkan variabel
kinerja manajerial diukur dari persfektif nonfinansial
dengan dimensi dari fungsi manajemen,
karena manajemen dalam menjalankan aktivitas
bisnisnya adalah dengan melakukan fungsi
manajemen.
II. Identifikasi Masalah
1. Secara simultan, Apakah Karakteristik
Informasi Relevant, Reliable, Aggregation,
Timely, Understandble, dan Verifiable
berpengaruh terhadap Kinerja Manajerial pada
Perusahaan-perusahaan go-publik di Jawa
Barat ?
2. Secara partial, Apakah Karakteristik Informasi
Relevant, Reliable, Aggregation, Timely,
Understandble, dan Verifiable berpengaruh
bersama-sama terhadap Kinerja Manajerial
pada Perusahaan-perusahaan go-publik di
Jawa Barat ?
III. Kerangka Pemikiran
Dalam upaya mencapai tujuan organisasi yang
telah ditetapkan diperlukan suatu sistem informasi
yang terarah dan terintegrasi dengan baik, sebagai
bagian dari pengendalian organisasi. Sistem
informasi yang dirancang hendaknya dapat
menghasilkan informasi yang dibutuhkan oleh
manajemen dalam level yang berbeda.
Menurut Anthony et al, 1990; Atkinson et al,
1995; bahwa salah satu fungsi dari sistem informasi
adalah menyediakan informasi penting untuk
membantu manajer mengendalikan aktivitasnya,
serta mengurangi ketidakpastian lingkungan,
sehingga diharapkan dapat membantu perusahaan ke
arah pencapaian tujuan dengan sukses. Informasi
yang dihasilkan suatu sistem informasi merupakan
sumberdaya bagi organisasi, dimana informasi
tersebut dapat mendukung manajemen dalam
pengambilan keputusan. (Leitch, et al 1992).
Lebih lanjut Atkinson et.al, 1995 menjelaskan
bahwa informasi yang dihasilkan dari sistem
informasi dapat digunakan untuk mengukur kinerja
ekonomi dari unit organisasi dalam perusahaan.
Demikian juga Romney et al, (1992 :14),
menyatakan bahwa manfaat utama dari informasi
adalah mengurangi ketidakpastian, mendukung
keputusan, dan mendorong lebih baik dalam hal
perencanaan dan penjadualan aktivitas kerja.
Informasi yang digunakan untuk pengambilan
keputusan oleh manajer harus merupakan informasi
yang memiliki kualitas atau karakteristik informasi
yang baik sehingga pengambilan keputusan tepat
dan pada akhirnya dapat meningkatkan kinerja
secara keseluruhan. Bodnar (2003:10) dalam Nunuy
(2004), dan Romney et. all (1997 :14) merangkum
karakteristik informasi yang berkualitas
diidentifikasikan meliputi sebagai berikut :
o Relevant : Informasi dikatakan relevan bila
informasi tersebut dapat mengurangi
ketidakpastian, meningkatkan kemampuan para
pengambil keputusan untuk membuat prediksi,
atau mengkonfirmasi, atau mengoreksi
ekspetasinya dimasa lalu.
o Reliable : Informasi dikatakan terpercaya bila
dia bebas dari kesalahan dan bias, serta secara
akurat menjelaskan kejadian atau aktivitas
organisasi.
o Complete : Informasi dikatakan sempurna atau
utuh bila dia tidak meninggalkan aspek-aspek
penting yang melatarbelakangi suatu kejadian
atau aktivitas yang diukur.
o Timely : Informasi dikatakan tepat waktu bila
informasi tersedia pada waktu para pengambil
keputusan menggunakannya untuk membuat
keputusan.
o Understandable : Informasi dikatakan dapat
dipahami bila informasi disajikan dalam format
yang berguna dan dapat dimengerti.
o Verifiable : Informasi dikatakan dapat diuji bila
dua orang yang berpengetahuan secara
independent memeriksa, akan menghasilkan
informasi yang sama.
Berkenaan dengan kualitas informasi, Wolk
et.al (1992:168-172); Hendriksen 1992:131-144;
menjelaskan bahwa kriteria utama informasi, yaitu
berguna untuk pengambilan keputusan. Agar
berguna, informasi harus mempunyai dua sifat
kualitas utama dan dua sifat kualitas sekunder. Dua
sifat kualitas utama adalah relevan dan reliability.
Informasi dikatakan relevan kalau memenuhi tiga
Agus Widarsono ISSN : 1907 – 9958
Jurnal Akuntansi FE Unsil, Vol. 2, No. 2, 2007
289
sifat, yaitu ; predictive value, feedback value dan
time lines. Sedangkan informasi dikatakan reliability
kalau memenuhi tiga sifat, yaitu; veriviability,
neutrality dan representational faithfullnes.
Sedangkan dua sifat kualitas sekunder adalah:
comparability dan consistency.
Agar informasi tersebut efektif dalam
pengambilan keputusan manajemen, maka informasi
harus memenuhi kriteria kualitas tertentu. Perhatian
terhadap kualitas informasi ini menjadi penting,
mengingat informasi ini merupakan basis
pengambilan keputusan. Dapat dibayangkan kalau
kualitas informasi tersebut tidak mempunyai kualitas
tinggi, keputusan yang diambil berpotensi besar
menjadi keliru dan akan merugikan perusahaan,
dengan demikian kinerja manajerial pada khususnya
adalah dapat dikatakan kurang baik. Hasil
penelitian-penelitian terdahulu menunjukan
(meskipun terdapat ketidakkonsistenan hasil
penelitian) bahwa pada umumnya terdapat pengaruh
Karakteristik Informasi terhadap Kinerja Manajerial.
Pada penelitian ini peneliti menggunakan
karakteristik informasi berkualitas mengacu kepada
yang diungkapkan tersebut diatas.
Semakin berkualitas informasi diperoleh
manajemen, kemudian informasi tersebut dijadikan
dasar pengelolaan usaha, maka akan meningkatkan
kemampuan manajemen tersebut untuk meraih
kesuksesan usaha. Hal tersebut menjelaskan adanya
pengaruh Karakteristik Informasi dengan Kinerja
Manajerial. Pernyataan tersebut diperkuat oleh
penelitian Gul, (1991); Chia, (1995); Nazarudin,
(1998); Juniarti & Evelyn, (2003); Sinta Setiana,
(2004) yang menyatakan bahwa keputusan yang
didasarkan pada informasi yang berkualitas, akan
berdampak kepada peningkatan kinerja manajerial.
Kinerja manajerial diartikan sebagai salah
satu faktor penting dalam perusahaan, karena dengan
meningkatnya kinerja manajerial diharapkan akan
dapat meningkatkan kinerja perusahaan. Kinerja
manajerial yang diperoleh manajer juga merupakan
salah satu faktor yang dapat dipakai untuk
meningkatkan keefektifan perusahaan. Kinerja
manajerial menunjukkan kemampuan manajemen
dalam menjalankan fungsi manajemen yang
merupakan aktivitas bisnis, yang tentu selalu
berkenaan dengan pengambilan keputusan. Seperti
menurut Williams (2001); David Kroenke (1989 :
10) yang menyatakan bahwa manajemen dalam
menjalankan fungsi dan aktivitas bisnisnya meliputi
Planning (Perencanaan), Organizing
(Pengorganisasian), Actuating (Pengarahan), dan
Controlling (Pengendalian), senantiasa memerlukan
informasi untuk membuat keputusan.
Selajutnya Mahoney, (1965) dan Nazaruddin
(1998), Juniarti & Evelyn (2003), mengemukakan
bahwa kemampuan manajemen dalam hal Planning
(Perencanaan), Organizing (Pengorganisasian),
Actuating (Pengarahan), dan Controlling
(Pengendalian) dapat dijadikan indikator penilaian
kinerja manajerial, berdasarkan pandangan bahwa
kinerja manajemen akan baik jika ia memiliki
kemampuan untuk menjalankan fungsi atau aktivitas
bisnisnya tersebut, dimana kemampuan tersebut
dipengaruhi oleh informasi yang berkualitas yang
diperoleh dari sistem informasi yang terarah dan
terintegrasi dengan baik, guna mendukung
manajemen dalam proses pengambilan keputusan.
IV. Objek dan Metodologi Penelitian
Objek Penelitian pada penelitian ini adalah
Karakteristik Informasi yang : Relevant, Reliable,
Aggregation, Timely, Understandable, Verifiable,
dan Kinerja Manajerial. Penelitian dilakukan dengan
mengirimkan kuisioner kepada para manajer
menengah/fungsional, yaitu para manajer
perencanaan keuangan, perusahaan-perusahaan gopublik
Aneka Industri di Jawa Barat yang menjadi
responden dalam penelitian ini. Alasan pemilihan
subjek tersebut adalah: (a) dalam situasi bisnis yang
penuh dengan ketidakpastian, mereka merupakan
manajer fungsional yang berperan penting didalam
pengambilan keputusan dalam perusahaan, (b)
sejalan dengan pemikiran Miah dan Mia (1996)
bahwa ketidakkonsistenan hasil penelitian Gordon
dan Narayanan (1984) dan Chenhall dan Morris
(1986) diduga karena perbedaan level posisi
responden didalam perusahaan. Data Perusahaan gopublik
diperoleh dari Indonesian Capital Market
Directory Tahun 2004 dan media internet
www.jsx.co.id. Populasi penelitian berjumlah
sebanyak 47 buah perusahaan dengan teknik
sampling menggunakan teknik sampling sederhana
sehingga diperoleh sebanyak 23 perusahaan
manufaktur go public Aneka Industri di Jabar.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian
ini adalah metode survei eksplanatory. Adapun
operasionalisasi variable didefinisikan sebagai
berikut :
1. Variabel Independen ( X)
Agus Widarsono ISSN : 1907 – 9958
Jurnal Akuntansi FE Unsil, Vol. 2, No. 2, 2007
290
Variabel independen dalam penelitian ini adalah
Karakteristik Informasi, dengan sub variable
berikut :
a. Karakteristik Informasi Relevant/Relevan
(X1), yaitu informasi dikatakan relevan bila
informasi dapat mengurangi ketidakpastian,
meningkatkan kemampuan para pengambil
keputusan untuk membuat prediksi, atau
mengkonfirmasi, atau mengoreksi
ekspetasinya dimasa lalu.
b. Karakteristik Informasi
Reliable/Keandalan (X2), yaitu informasi
dikatakan terpercaya bila informasi bebas
dari kesalahan dan bias, serta secara akurat
menjelaskan kejadian atau aktivitas
organisasi.
c. Karakteristik Informasi
Aggregation/Lengkap dan Ringkas (X3),
yaitu informasi dikatakan sempurna atau
utuh secara lengkap dan ringkas dan bila
informasi tersebut tidak meninggalkan
aspek-aspek penting yang melatarbelakangi
suatu kejadian atau aktivitas yang
diukur.
d. Karakteristik Informasi Timely/Tepat
Waktu (X4), yaitu Informasi dikatakan
tepat waktu bila informasi tersebut tersedia
pada waktu para pengambil keputusan
menggunakannya untuk membuat
keputusan.
e. Karakteristik Informasi
Undestandable/Dapat dipahami (X5),
yaitu Informasi dikatakan dapat dipahami
bila informasi disajikan dalam format yang
berguna dan dapat dimengerti.
f. Karakteristik Informasi Verifiable/Dapat
diverifikasi (X6), yaitu Informasi
dikatakan dapat diuji bila dua orang yang
berpengetahuan secara independen
memeriksa, akan menghasilkan informasi
yang sama.
2. Variabel Dependen ( Y )
Variabel Dependen dalam penelitian ini adalah
Kinerja Manajerial. Instrumen yang digunakan
untuk mengukur Kinerja Manajerial berdasarkan
persfektif non-keuangan yaitu, Kemampuan Manajer
dalam hal perencanaan (Planning), Kemampuan
manajer dalam hal pengorganisasian (Organizing),
Kemampuan manajer dalam hal pengarahan
(Actuating), dan Kemampuan Manajer dalam hal
pengendalian (Controlling), dengan indicator yang
dikembangkan sendiri oleh peneliti.
Data yang dikumpulkan melalui kuisioner
diolah dan dianlisis lebih lanjut, meliputi uji
kendalalan dan keshahihan alat pengukur dan
dilanjutkan dengan penganalisisan data yang
diperoleh untuk menarik suatu kesimpulan dengan
menggunakan teknik analisis regresi berganda.
V. Hasil dan Pembahasan
5.1 Hasil Penelitian
5.1.1 Deskripsi Statistik
Pengumpulan data penelitian dilakukan
dengan menggunakan mail survey questionaire.
Kuisioner ini dipersiapkan untuk 23 manajer
perencanaan keuangan perusahaan manufaktur
aneka industri yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta
tahun 2004. Penulis mengirimkan kuisioner
sebanyak jumlah populasi perusahaan manufaktur go
publik aneka industri yaitu sebanyak 47 buah
kuisioner (sejumlah populasi), berdasarkan
pertimbangan atas respon pengembalian kuisioner
yang dikhawatirkan kurang baik. Penulis melakukan
pengiriman dalam dua tahap pengiriman, karena
setelah tahap satu respon pengembalian kurang
mencukupi untuk dijadikan sampel. Selanjutnya
hingga batas pengiriman yang kedua ditentukan
penulis, kuisioner yang kembali kepada peneliti
seluruhnya berjumlah sebanyak 27 kuisioner atau
sebanyak 57 % dari total kuisioner yang diedarkan.
5.1.1.1 Karakteristik Responden
5.1.1.1.1 Bagian Departemen Tempat bekerja dan
Lama menjabat
Berdasarkan unit/departemen tempat
bekerja para responden, responden yang bekerja
sebagai manajer perencanaan keuangan sebanyak
15 orang atau 55,5%, project leader 7 orang atau
26%, kepala bidang 5 orang atau 18,5% dari seluruh
kusioner yang diterima. Hasil penelitian tersebut
menunjukkan bahwa sebagian besar responden
penelitian ini bekerja sebagai bagian perencanaan
keuangan yang terbiasa melakukan penyusunan
anggaran.
Pada unit/departemen tempat bekerja,
responden yang bekerja > 10 tahun sebanyak 8
responden, 5-10 tahun sebanyak 13 responden, < 5
tahun sebanyak 6 responden. Hasil
penelitian tersebut menunjukkan bahwa sebagian
besar responden penelitian ini menjabat sebagai
manajer > 5 tahun.
5.1.1.1.2 Pendidikan Terakhir
Agus Widarsono ISSN : 1907 – 9958
Jurnal Akuntansi FE Unsil, Vol. 2, No. 2, 2007
291
Sebagian besar pendidikan terakhir
responden adalah S1, dengan hasil penelitian yang
menunjukkan untuk pendidikan terakhir S3
sebanyak 3 responden, S2 sebanyak
7 responden, S1 sebanyak 17 responden.
5.1.2 Gambaran umum tanggapan responden
Untuk melihat secara rinci gambaran umum
tanggapan responden setiap variable akan diuraikan
dalam bagian berikut ini. Setiap dimensi/aspek yang
ditanyakan akan diuraikan terlebih dahulu,
selanjutnya dilakukan penilaian terhadap kualitas
masing-masing item akumulasi/keseluruhan dengan
cara membuat tabel kategori penilaian. Perhitungan
skor tiap-tiap komponen yang diteliti adalah dengan
mengalikan seluruh frekuensi data dengan nilai
bobotnya, selanjutnya dicari rentang skalanya
(Umar, 1999:225). Perhitungannya dilakukan
dengan langkah sebagai berikut:
a. Bobot terendah x item x jumlah
responden
b. Bobot tertinggi x item x jumlah
responden
c. Rentang skalanya
Dari hasil perhitungan tersebut, maka dapat
dibuat skala penilaian dengan kategori Sangat
Rendah, Rendah, Sedang, Tinggi dan Sangat Tinggi.
5.1.2.1 Tanggapan responden mengenai variabel
kualitas informasi manajemen
Indikator diperlukannya Informasi
manajemen yang berkualitas diukur dengan
menggunakan enam dimensi yang dinyatakan dalam
31 butir pernyataan yang relevan. Berikut ini akan
diuraikan gambaran tanggapan responden sesuai
dengan indikator yang dimaksud.
Agus Widarsono ISSN : 1907 – 9958
Jurnal Akuntansi FE Unsil, Vol. 2, No. 2, 2007
292
Tabel 5.1.2.1.g Rekapitulasi Distribusi Tanggapan Responden Atas Variabel Kualitas Informasi Manajemen
Kualitas
Informasi
Manajemen
5 Rekapit4u lasi Skor Ja3w aban Resp2o nden 1 Total
F % f % f % f % F % f %
Dimensi 1 64 24.52 92 33.21 76 28.68 11 7.97 0 0 243 25
Dimensi 2 33 12.64 30 10.83 32 12.08 11 7.97 2 6.45 108 11.11
Dimensi 3 63 24.14 31 11.19 66 24.91 88 63.77 22 70.97 270 27.78
Dimensi 4 16 6.13 23 8.30 39 14.72 23 16.67 7 22.58 108 11.11
Dimensi 5 23 8.81 24 8.66 7 2.64 0 0 0 0 54 5.56
Dimensi 6 62 23.75 77 27.80 45 16.98 5 3.62 0 0 189 19.44
Akumulasi 261 277 265 138 31 972
Jumlah Skor 1305 1108 795 276 31 3515
Sumber : Data penelitian, diolah
Jumlah skor tanggapan responden atas ke-31 butir pernyataan (dalam enam dimensi) pada variable
kualitas informasi manajemen diperoleh sebesar 3515 dengan bobot skor tertinggi adalah 5 dan bobot
terendah 1. Jika diklasifikasikan menjadi lima tingkatan maka rentang skor antar tingkatan dapat dihitung
dengan cara sebagai berikut:
Nilai skor minimum : 1 x 27 x 31 = 837
Nilai skor maksimum : 5 x 27 x 31 = 4185
Range : 4185 – 837 = 3348
Jenjang Range : 3348 : 5 = 670 (pembulatan)
Interval kategori untuk jumlah total skor tanggapan responden atas ke-31 butir pernyataan (dalam enam
dimensi) variabel kualitas informasi manajemen dapat digambarkan dalam bentuk garis kontinum sebagai
berikut :
Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi
837 1507 2177 2847 35135517 4187
Agus Widarsono ISSN : 1907 – 9958
Jurnal Akuntansi FE Unsil, Vol. 2, No. 2, 2007
293
Berdasarkan interval kategori diatas dapat disimpulkan bahwa tanggapan responden mengenai variabel
kualitas informasi manajemen, secara umum termasuk dalam kategori Tinggi, hal tersebut menunjukkan
bahwa informasi manajemen yang berkualitas dengan karakteristik tertentu telah digunakan dalam proses
pengambilan keputusan manajerial.
5.1.2.2 Tanggapan responden mengenai variabel kinerja manajerial
Variabel kinerja manajerial diukur dengan menggunakan 16 butir pertanyaan yang relevan dengan
dimensi fungsi anggaran. Berikut ini akan diuraikan gambaran tanggapan responden sesuai dengan variabel
yang dimaksud.
Tabel 5.1.2.2 Distribusi Tanggapan Responden Atas Variabel fungsi perencanaan keuangan
No. Dimensi Tanggapan Bobot F % Skor
1. Fungsi Anggaran Selalu 5 64 26.34 320
Sering 4 92 37.86 368
Kadang-Kadang 3 76 31.27 228
Jarang 2 11 4.53 22
Tidak Pernah 1 0 0 0
Jumlah 243 938
Sumber : Data penelitian, diolah
Kesimpulan mendasar yang dapat diambil dari angka persentase diatas adalah bahwa dalam
melaksanakan fungsinya manajer, sebagai perencana keuangan maka aktivitas planning merupakan hal yang
terutama. Hal ini tersirat dalam ukuran indikator Sering yang dipilih para responden dimana hal ini
menunjukkan peranan responden dalam aktivitas bisnis perusahaan.
Jumlah skor tanggapan responden atas butir pernyataan pada variabel fungsi perencanaan keuangan
diperoleh sebesar 938 dengan bobot skor tertinggi adalah 5 dan bobot terendah 1. Jika diklasifikasikan
menjadi lima tingkatan maka rentang skor antar tingkatan dapat dihitung dengan cara sebagai berikut:
Nilai skor minimum : 2 x 27 x 9 = 486
Nilai skor maksimum : 5 x 27 x 9 = 1215
Range : 1215 – 486 = 729
Jenjang Range : 729 : 5 = 146 (pembulatan)
Interval kategori untuk jumlah total skor
tanggapan responden dapat digambarkan dalam
bentuk garis kontinum sebagai berikut :
Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi
486 632 778 924 1070 1215
938
Agus Widarsono ISSN : 1907 – 9958
Jurnal Akuntansi FE Unsil, Vol. 2, No. 2, 2007
294
Berdasarkan interval kategori diatas dapat
disimpulkan bahwa tanggapan responden mengenai
variabel kinerja manajerial, secara umum termasuk
dalam kategori Tinggi, hal ini menunjukkan bahwa
responden sebagai manajer perencana keuangan di
perusahaan memiliki perananya yang penting
terutama menyangkut kepada penyusunan anggaran.
5.1.3 Pengujian Model Regresi Berganda
Dalam model regresi berganda yang
menggunakan pendekatan Ordinary Least Square (
OLS ) perlu dilakukan pengujian untuk mengetahui
bahwa dalam model regresi yang diperoleh bebas
dari multikolinier, heteroskedastis dan auto korelasi.
Namun dalam penelitian ini pengujian auto korelasi
tidak digunakan karena menggunakan data cross
section. Dari hasil perhitungan regresi berganda
dalam lampiran, hasil perhitungan regresi berganda
yang merupakan hasil pengolahan dengan
menggunakan program Minitab ver 14.0 diperoleh
suatu model atau persamaan regresi yang
memperlihatkan pengaruh Kualitas Informasi
Manajemen terhadap Kinerja Manajerial. Persamaan
regresi yang diperoleh adalah sebagai berikut:
Y = β0 + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + β5X5 + β6X6 + e
Y = 43.7 + 0.176 X1 - 2.43 X2 - 0.652 X3 + 1.55 X4 + 1.24 X5 + 1.72 X6
(0,55) (-1,94) (2,31) (2,07) (908) (3,03)
R2 = 31,6% F = 3,00
Angka dalam kurung adalah t-statistik. Dengan
persamaan di atas dapat dilihat bahwa variabel
kinerja manajemen dipengaruhi secara positif oleh
variabel kualitas informasi manajemen dengan sub
variable masing-masing X1, sampai dengan X6 yaitu
dengan koefisien regresi (b) yaitu b1 = 0.1757, b2 =
-2.433 , b3 = -0.6519, b4 = 1.5461 ,b5 = 1.244 ,
dan b6 = 1.7233.
Koefisien determinasi (R2) dalam hasil
regresi output minitab ver. 14.2 adalah
sebesar 31,6 %, hal ini menunjukkan variabel bebas
dengan sub variable-nya secara serempak
menjelaskan variabel terikat sebesar 31,6%, masih
terdapat variabel lain sebesar 68,4% dalam
menjelaskan variabel Y.
Multikollinier
Dalam pengujian model regresi harus
bebas dari multikollinier karena terjadinya
multikollinier akan menyebabkan pengaruh variabel
bebas terhadap variabel terikat tertutup oleh variabel
bebas lainnya. Untuk mengetahui adanya
multikolinier digunakan program SPSS yaitu
membandingkan tingkat signifikansi penelitian
(0,05) dengan tingkat signifikansi yang dihasilkan
komputer (p) dari korelasi antar variabel X1 dengan
variabel X2.
Bila p ≤ α{ 0,05} , maka terjadi
multikolinier
Bila p > α{ 0,05 } , maka tidak
terjadi multikolinier
Dari hasil perhitungan dapat diketahui
bahwa tingkat signifikansi korelasi antar variabel X1
dengan variabel X2 (p = 0,113), X1 dengan variabel
X3 (p = 0,113), X1 dengan variabel X4 (p = 0,113),
X1 dengan variabel X5 (p = 0,113), X1 dengan
variabel X6 (p = 0,113), X2 dengan variabel X3 (p =
0,113), X2 dengan variabel X4 (p = 0,113), X2
dengan variabel X5 (p = 0,113), X2 dengan variabel
X6 (p = 0,113), X3 dengan variabel X4 (p = 0,113),
X3 dengan variabel X5 (p = 0,113), X3 dengan
variabel X6 (p = 0,113), X4 dengan variabel X5 (p =
0,113), X4 dengan variabel X6 (p = 0,113), dan X5
dengan variabel X6 (p = 0,113), sehingga dapat
diketahui bahwa dalam penelitian ini tidak terjadi
multikolinier karena p > α{ 0, 05 } berarti antar sub
variabel kualitas informasi manajemen tidak akan
saling menutupi dalam mempengaruhi variabel
kinerja manajerial.
Heteroskedastis
Dalam penelitian ini pengujian
heteroskedastis dilakukan dengan menggunakan
rank korelasi Spearman. Heteroskedastis dalam
metode ini diketahui bila terjadi korelasi antara e
dengan X, berdasarkan pada pengujian korelasi
Spearman.
Agus Widarsono ISSN : 1907 – 9958
Jurnal Akuntansi FE Unsil, Vol. 2, No. 2, 2007
295
Signifikansi rs dapat diketahui dengan
membandingkan tingkat signifikansi penelitian (α =
0,05) dengan nilai signifikansi hasil output
komputer (p).
Adapun kaidah keputusannya adalah
sebagai berikut :
Bila p > α { 0,05 } , maka terjadi
homoskedastis
Bila p ≤ α { 0,05} , maka terjadi
heteroskedastis
Dari hasil perhitungan korelasi antara
varaibel e dengan variabel X1, X2, X3, X4, X5, dan
variabel X6 , dapat diketahui bahwa siginifikansi (p)
dari korelasi e dengan X1 adalah 0,825, signifikansi
(p) dari korelasi antara e dengan X2 adalah 0,273,
signifikansi (p) dari korelasi antara e dengan X3
adalah 0,273, signifikansi (p) dari korelasi antara e
dengan X4 adalah 0,273, signifikansi (p) dari
korelasi antara e dengan X5 adalah 0,273,
signifikansi (p) dari korelasi antara e dengan X6
adalah 0,273. Kedua siginifikansi hasil perhitungan
komputer tersebut lebih besar dari tingkat
signifikansi penelitian,
p1{ 0,825 } > α { 0,05 }
p2{ 0,273 } > α { 0,05 }
Hal ini membuktikan bahwa dalam model
regresi tersebut tidak terdapat heteroskedastis atau
dalam model regresi tersebut terdapat
homoskedastis.
Agus Widarsono ISSN : 1907 – 9958
Jurnal Akuntansi FE Unsil, Vol. 2, No. 2, 2007
296
5.2 Pembahasan
Dalam hal ini pembahasan dilakukan
dengan menganalis hipotesis yang diajukan dalam
penelitian.
5.2.1 Analisis Pengaruh Karakteristik
Informasi yang : Relevan, Keandalan,
Lengkap dan Ringkas, Tepat waktu,
Dapat dipahami, dan Dapat diverifikasi,
secara Simultan terhadap Kinerja
Manajerial (Hipotesis 1)
Dari model regresi dapat di lihat bahwa
variabel kinerja manajerial (Y) dijelaskan oleh
variabel kualitas informasi manajemen (X) sebesar
koefisien determinasi (R2) = 31,6% dan sisanya
dijelaskan oleh variabel lain sebesar 68,4%.
Keberartian secara simultan variabel-variabel bebas
dapat dilihat dari hasil Uji-F.
Hipotesis operasionalnya:
H0 : ßi = 0
H1 : ßi ≠ 0, paling tidak ada salah satu koefisien
regresi yang tidak sama dengan nol.
Keputusan: F > Fα{k;(n-k-1)}, maka tolak H0
F ≤ Fα{k;(n-k-1)}, maka terima H0
Dari output perhitungan yang dihasilkan
pada perhitungan regresi linier berganda didapat
Fhitung = 3,00 dengan nilai P (0.029) pada
signifikansi penelitian 0,05 Keputusannya Fhitung >
Ftabel berarti H0 ditolak. Artinya benar bahwa,
kualitas informasi dengan karakteristik Relevan,
Keandalan, Lengkap dan Ringkas, Tepat waktu,
Dapat dipahami, dan Dapat diverifikasi, secara
serempak berpengaruh terhadap kinerja manajerial.
5.2.2 Analisis Pengaruh Karakteristik
Informasi yang : Relevan, Keandalan,
Lengkap dan Ringkas, Tepat waktu,
Dapat dipahami, dan dapat diverifikasi,
secara Partial terhadap Kinerja
Manajerial (Hipotesis 2)
Selain pengaruh serempak dari variable
kualitas informasi manajemen terhadap kinerja
manajerial selanjutnya dilakukan pengujian secara
partial untuk mengetahui pengaruh masing-masing
sub variable kualitas informasi manajemen terhadap
kinerja manajerial sesuai hipotesis kedua.
Pengujian dilakukan dengan menggunakan Uji-t,
dengan hipotesis operasional sebagai berikut:
H0 : β1 = 0
H1 : β1 > 0
Keputusan: t1 > t(α,n-2), maka tolak H0
t1 ≤ t(α,n-2), maka terima H0
Dari output hasil perhitungan regresi linier
melalui program komputer di dapat t1 hitung = 1.22
, t2 hitung = 1.30 , t3 hitung = 1.02, t4 hitung =1.55 ,
t5 hitung = 2.08 , dan t6 hitung = 2.22, dengan nilai P
masing-masing adalah p1 = 0.233, p2 = 0.204 , p3
=0.319 , p4 = 0.133 , p5 = 0.048, dan p6 =
0.036, pada tingkat signifikansi penelitian sebesar
0,05 pada uji satu arah (one-tail ). Jadi t1 hitung > t tabel
, hal ini membuktikan bahwa hipotesis penelitian
yang dikemukakan peneliti dapat teruji, untuk
variabel X1 sampai dengan X4 dikatakan terdapat
pengaruh tetapi tidak signifikan sedangkan X5 dan
X6 dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh yang
signifikan.
VI. Simpulan dan Saran
6.1. Simpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan
yang telah ditentukan dan sesuai dengan rumusan
permasalahan dimuka, maka dapat diajukan
simpulan sebagai berikut :
1. Secara Simultan, Kualitas Informasi
Manajemen dengan karakteristik Informasi
yang : Relevan, Keandalan, Lengkap dan
Ringkas, Tepat waktu, Dapat dipahami, dan
dapat diverifikasi, berpengaruh terhadap
kinerja manajerial pada perusahaan manufaktur
go publik aneka industri di Jawa Barat. Pada
penelitian ini manajer memperoleh informasi
dengan cukup berkualitas yang memenuhi
kriteria relevan, keandalan, lengkap dan
ringkas, tepat waktu , dapat dipahami, dan
dapat diverifikasi sehingga dapat mendukung
pengambilan keputusan manajer, meskipun
masih terdapat variabel lainnya yang
berpengaruh terhadap pengambilan keputusan
mereka, informasi yang berkualitas menjadi
bahan pertimbangan yang pertama dalam
menentukan langkah-langkah perencanaan
sesuai dengan fungsi mereka sebagai
pengelola organisasi.
Agus Widarsono ISSN : 1907 – 9958
Jurnal Akuntansi FE Unsil, Vol. 2, No. 2, 2007
297
2. Secara Parsial, Kualitas Informasi Manajemen
dengan karakteristik Informasi yang : Relevan,
Keandalan, Lengkap dan Ringkas, Tepat
waktu, Dapat dipahami, dan dapat diverifikasi,
berpengaruh terhadap kinerja manajerial pada
perusahaan manufaktur go publik aneka
industri di Jawa Barat. Pengambilan keputusan
yang dilakukan manajer berpengaruh terhadap
perencanaan keuangan, artinya jika
pengambilan keputusan dilakukan dengan baik,
maka perencanaan keuangan yang mereka buat
akan baik pula. Pengambilan keputusan yang
baik adalah dengan didasarkan pada informasi
yang diperoleh berkualitas sehingga terlihat
pada perencanaan keuangan yang disusun.
Proses pengambilan keputusan yang meliputi
fase-fase identifikasi, pengembangan, dan
finalisasi atau seleksi perlu dilakukan dan
didasarkan pada informasi yang diperoleh
sehingga mendukung dalam pelaksanaan tugas
manajer terutama fungsi perencanaan
keuangan.
6.2 Saran Dan Keterbatasan Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan,
dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut:
1. Pemanfaatan informasi berkualitas yang
diperoleh para manajer hendaknya terus
dilakukan sebagai dasar pengambilan
keputusan dengan memperbaiki sistem
pengolahan informasi dari berbagai aspek
termasuk pengembangan teknologi informasi
sehingga dihasilkan informasi yang berkualitas.
2. Variabel Kualitas Informasi dalam penelitian
ini terbatas pada karakteristik Relevant,
Reliable, Aggregation, Timely,
Understandable, Verifiable. Dimana masih
terdapat banyak kriteria yang mendukung
karakteristik informasi berkualitas.
3. Variabel Kinerja Manajerial dapat diukur dan
dikembangkan lebih lanjut misalnya dengan
indikator konsep Total Quality Management,
Balance Scorecard, dan lainnya.
4. Pada penelitian selanjutnya diharapkan
populasi dan sampel diperluas, untuk
memperoleh hasil penelitian dan dasar
justifikasi yang optimal
Penelitian ini memiliki keterbatasan antara lain
adalah Hasil penelitian ini sangat tergantung pada
kejujuran para responden dalam menjawab
kuesioner, namun peneliti telah berusaha untuk
meminimalkan terjadinya ketidakjujuran dengan
kontak pertelpon secara acak serta disample dan
dikirimkankannya kuisioner dalam 2 tahap
perngiriman.
VII. Daftar Pustaka
Buku-Buku :
Anthony, RN., J. Dearden dan Bedford, 1990.
Management Control Systems, Fifth
Edition, Homewood, Ilinois:Irwin.
Atkinson, Anthony A., Rajiv D. Baker., Robert S.
Kaplan dan S. Mark Young, 1995.
Management Accounting, Englewood
Cliffs, New Jersey: Prentice Hall Inc.
Bodnar, George H., Williams S. Hoopwood, 1995,
Accounting Information System, Sixth
Edition, Prentice Hall Inc.
Emory, 1980., Business Research Methods., revised
edition., Illionis : Richard D. Irwin.
Gujarati, Damodar, 1995, Essential of
Econometrics, Singapore:Mc Graw Hill
International.
Harun Al Rasyid, 1998, Teknik Penarikan
Sampel dan Penyusunan Skala., Program
pascasarjana Universitas Padjadjaran Bandung.
Koontz, Harold., Cyril O’Donnell, Heinz Weilrich,
1984., Management., Eight Edition.,
McGraww Hill International.
Kroenke, David, 1989, Management Information
system, Mc. Graww hill.
Leitch, Robert A., K. Roscoe Davis, 1992,
Accounting Information system, Second
edition, Prentice hall Inc.
Mc. Leod, 1994, Information system concepts, New
York : McMillan Publishing Company.
Moh. Nazir, 1998, Metode Penelitian. Cetakan ke 3,
Jakarta: Ghalia.
Mahoney, T.A dan Jerdee, Caroll, 1965,
Development of Managerial
Performance: A Research Approach,
Cinccinnati, Ohio: South Western
Publishing Co.
Masri Singarimbun, Sofian Effendi, Djamaludin
Ancok, Tri Handayani, 1995: Metode
Penelitian Survai. Jakarta: LP3S.
Mulyadi, 2001, Akuntansi Manajemen,
Jogjakarta : BPFE UGM.
Agus Widarsono ISSN : 1907 – 9958
Jurnal Akuntansi FE Unsil, Vol. 2, No. 2, 2007
298
Sritua Arief, 1993, Metodologi Penelitian Ekonomi,
Jakarta: UI Press.
Sugiyono, 2004., Statistik Untuk Penelitian,
Bandung: Penerbit Alfabeta.
Suharsimi Arikunto, 1996: Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktek, Cetakan Ke
10, jakarta: PT. Rineka Cipta.
Uma Sekaran, 2000., Research Methods for Business
: A Skill Building Approach.,Third
edition, Jhon Wiley & Sons, Inc.
Walker, Orvile C., Jr, Harper W. Boyd, Jr, jhon
Mullins, Jean Claude Lareche, Marketing
Strategy : A decision focused approach.
Fourth edition, McGraw Hill Irwin.
Williams, Chuk, 2001, Management., First edition,
South Western College Publishing.
Wilkinson, Joseph W., 1999., Sistem Akuntansi dan
Informasi, Alih bahasa Marianus Sinaga,
Jakarta : Erlangga.
Jurnal, Artikel, Tesis dan Disertasi :
Chenhall, R.H dan Deigan Morris, 1986, The Impact
of Structure, Enviroment, and
Interdependence on The Perceived
Usefulness of Management Accounting
System, The Accounting Review, January,
hal. 16-35.
Chia, Yew Ming, 1995, Decentralization,
Management Accounting System (MAS)
Information Characteristics and Their
Interaction Effect on Managerial
Performance: A Singapore Study, Journal
of Bussiness Finance and Accounting,
September, hal. 811-830.
Elfreda Aplonia Lau, 2004, Pengaruh partisipasi
pemakai terhadap kepuasan dalam
pengembangan system informasi dengan
lima variable moderating, Jurnal Riset
Akuntansi., Vo. 7 No 1 Januari 2004.
Gul, Ferdinand A., 1991, The Effect of Management
Accounting System and Enviromental
Uncertainty on Small Business Manager’s
Performancene, Accounting and Business
Research, Vol. 22, No. 85, hal. 57-61.
Juniarti dan Evelyne., 2003., Hubungan karakteristik
informasi yang dihasilkan oleh system
informasi akuntansi manajemen terhadap
kinerja manajerial pada perusahaan
manufaktur di Jawa Timur., Jurnal
akuntansi dan keuangan., vol 5. No. 2,
Nopember 2003 page 110-122.
Kromer, Kenneth L, James N. Danziger, Debora E.
Dunkle, and Jhon L. King, 1993, The
Usefulness of Computer Based
Information to public manager, MIS
Quarterly, 129-148, June 1993.
Mia, L dan R.H. Chenhall, 1994, The Usefulness of
Management Accounting System,
Functional Differentiation and Mangerial
Effectiveness, Accounting, Organization
and Society, Vol 19, No. 1, hal. 1-13.
Miah, N.Z. dan Mia., 1996, “Decentralization,
Accounting Control and Performance of
Government Organizations: A New
Zealand Empirical Study,” Financial
Accountability Management, 12 (3),
August, hal. 173-189.
Nazaruddin, Ietje, 1998, Pengaruh Desentralisasi
dan Karakteristik Informasi Sistem
Akuntansi Manajemen terhadap Kinerja
Manajerial, Jurnal Riset Akuntansi
Indonesia, Vol 1, No. 2. hal. 141-161.
Nunuy Nur Afiah, 2004, Pengaruh kompetensi
anggota DPRD, Kompetensi Aparatur
Pemda, Pelaksanaan Sistem Informasi
Akuntansi, Penganggaran, serta Kualitas
Informasi Keuangan terhadap prinsipprinsip
tata kelola pemerintahan daerah
yang baik. Disertasi Program Doktor
Pascasarjana UNPAD.
Siegel, Shim., 1999., Kamus Istilah Akuntansi, Alih
bahasa : Moh. Kurdi., Jakarta : Elex
Media Komputindo.
Sinta Setiana, 2004, Pengaruh Pemahaman manajer
atas karakteristik informasi akuntansi
manajemen dan aplikasinya terhadap
kinerja manajerial. Tesis program
pascasarjana UNPAD.
Slaters F. S., 1996, The Challenge of Sustaining
Competitive Advantage, Industrial
Marketing Management 25, hal. 79-86.
Steven, John M, AG Cahill, ES Overman, and Lee
Frost Kumpt, 1994, Computerized
Information system and public sector
productivity, International Journal of
Public Administration, 17 (1), 1-31.
Thansi, 2004, Hubungan Kualitas Informasi
Akuntansi Keuangan Syariah Dengan
Agus Widarsono ISSN : 1907 – 9958
Jurnal Akuntansi FE Unsil, Vol. 2, No. 2, 2007
299
Kinerja Keuangan Baitulmal Wattamwil
(Bmt) Di Kota Bandung, Tesis program
pascasarjana UNPAD
Lain-Lain :
Bursa Efek Jakarta, Indonesian Capital Market
Directory 2004.
Agus Widarsono ISSN : 1907 – 9958
Jurnal Akuntansi FE Unsil, Vol. 2, No. 2, 2007
ccc


sumber:http://cari-pdf.com/download/index.php?name=jurnal%20riset%20akuntansi%20indonesia%202009&file=agusw77.files.wordpress.com/2009/09/kim

Read More......

Kamis, 07 Januari 2010

Borobudur.

Borobudur is a ninth-century Mahayana Buddhist monument in Magelang, Central Java, Indonesia. The monument comprises six square platforms topped by three circular platforms, and is decorated with 2,672 relief panels and 504 Buddha statues. A main dome, located at the center of the top platform, is surrounded by 72 Buddha statues seated inside perforated stupa.

The monument is both a shrine to the Lord Buddha and a place for Buddhist pilgrimage. The journey for pilgrims begins at the base of the monument and follows a path circumambulating the monument while ascending to the top through the three levels of Buddhist cosmology, namely Kāmadhātu (the world of desire), Rupadhatu (the world of forms) and Arupadhatu (the world of formlessness). During the journey the monument guides the pilgrims through a system of stairways and corridors with 1,460 narrative relief panels on the wall and the balustrades.

Evidence suggests Borobudur was abandoned following the fourteenth century decline of Buddhist and Hindu kingdoms in Java, and the Javanese conversion to Islam. Worldwide knowledge of its existence was sparked in 1814 by Sir Thomas Stamford Raffles, the then British ruler of Java, who was advised of its location by native Indonesians. Borobudur has since been preserved through several restorations. The largest restoration project was undertaken between 1975 and 1982 by the Indonesian government and UNESCO, following which the monument was listed as a UNESCO World Heritage Site. Borobudur is still used for pilgrimage; once a year Buddhists in Indonesia celebrate Vesak at the monument, and Borobudur is Indonesia's single most visited tourist attraction

Etymology

n Indonesian, ancient temples are known as candi; thus "Borobudur Temple" is locally known as Candi Borobudur. The term candi is also used more loosely to describe any ancient structure, for example gates and bathing structures. The origins of the name Borobudur however are unclear,[7] although the original names of most ancient Indonesian temples are no longer known.[7] The name Borobudur was first written in Sir Thomas Raffles' book on Javan history.[8] Raffles wrote about a monument called borobudur, but there are no older documents suggesting the same name.[7] The only old Javanese manuscript that hints at the monument as a holy Buddhist sanctuary is Nagarakretagama, written by Mpu Prapanca in 1365.[9]

The name 'Bore-Budur', and thus 'BoroBudur', is thought to have been written by Raffles in English grammar to mean the nearby village of Bore; most candi are named after a nearby village. If it followed Javanese language, the monument should have been named 'BudurBoro'. Raffles also suggested that 'Budur' might correspond to the modern Javanese word Buda ('ancient') – i.e., 'ancient Boro'.[7] However, another archaeologist suggests the second component of the name ('Budur') comes from Javanese term bhudhara (mountain).[10]

Karangtengah inscription dated 824 mentioned about the sima (tax free) lands awarded by Çrī Kahulunan (Pramodhawardhani) to ensure the funding and maintenance of a Kamūlān called Bhūmisambhāra. Kamūlān itself from the word mula which means 'the place of origin', a sacred building to honor the ancestors, probably the ancestors of the Sailendras. Casparis suggested that Bhūmi Sambhāra Bhudhāra which in Sanskrit means "The mountain of combined virtues of the ten stages of Boddhisattvahood", was the original name of Borobudur

Location

Approximately 40 kilometers (25 mi) northwest of Yogyakarta, Borobudur is located in an elevated area between two twin volcanoes, Sundoro-Sumbing and Merbabu-Merapi, and two rivers, the Progo and the Elo. According to local myth, the area known as Kedu Plain is a Javanese 'sacred' place and has been dubbed 'the garden of Java' due to its high agricultural fertility.[13] Besides Borobudur, there are other Buddhist and Hindu temples in the area, including the Prambanan temples compound. During the restoration in the early 1900s, it was discovered that three Buddhist temples in the region, Borobudur, Pawon and Mendut, are lined in one straight line position.[14] It might be accidental, but the temples' alignment is in conjunction with a native folk tale that a long time ago, there was a brick-paved road from Borobudur to Mendut with walls on both sides. The three temples (Borobudur–Pawon–Mendut) have similar architecture and ornamentation derived from the same time period, which suggests that ritual relationship between the three temples, in order to have formed a sacred unity, must have existed, although exact ritual process is yet unknown.[9]

Unlike other temples, which were built on a flat surface, Borobudur was built on a bedrock hill, 265 m (869 ft) above sea level and 15 m (49 ft) above the floor of the dried-out paleolake. The lake's existence was the subject of intense discussion among archaeologists in the twentieth century; Borobudur was thought to have been built on a lake shore or even floated on a lake. In 1931, a Dutch artist and a scholar of Hindu and Buddhist architecture, W.O.J. Nieuwenkamp, developed a theory that Kedu Plain was once a lake and Borobudur initially represented a lotus flower floating on the lake.[10] Lotus flowers are found in almost every Buddhist work of art, often serving as a throne for buddhas and base for stupas. The architecture of Borobudur itself suggests a lotus depiction, in which Buddha postures in Borobudur symbolize the Lotus Sutra, mostly found in many Mahayana Buddhism (a school of Buddhism widely spread in the east Asia region) texts. Three circular platforms on the top are also thought to represent a lotus leaf.[15] Nieuwenkamp's theory, however, was contested by many archaeologists because the natural environment surrounding the monument is a dry land.

Geologists, on the other hand, support Nieuwenkamp's view, pointing out clay sediments found near the site. A study of stratigraphy, sediment and pollen samples conducted in 2000 supports the existence of a paleolake environment near Borobudur, which tends to confirm Nieuwenkamp's theory. The lake area fluctuated with time and the study also proves that Borobudur was near the lake shore circa thirteenth and fourteenth century. River flows and volcanic activities shape the surrounding landscape, including the lake. One of the most active volcanoes in Indonesia, Mount Merapi, is in the direct vicinity of Borobudur and has been very active since the Pleistocene


Construction
There is no written record of who built Borobudur or of its intended purpose. The construction time has been estimated by comparison between carved reliefs on the temple's hidden foot and the inscriptions commonly used in royal charters during the eight and ninth centuries. Borobudur was likely founded around 800 AD.[18] This corresponds to the period between 760–830 AD, the peak of the Sailendra dynasty in central Java, when it was under the influence of the Srivijayan Empire. The construction has been estimated to have taken 75 years and been completed during the reign of Samaratungga in 825.

There is confusion between Hindu and Buddhist rulers in Java around that time. The Sailendras were known as ardent followers of Lord Buddha, though stone inscriptions found at Sojomerto suggest they may have been Hindus. It was during this time that many Hindu and Buddhist monuments were built on the plains and mountain around the Kedu Plain. The Buddhist monuments, including Borobudur, were erected around the same time as the Hindu Shiva Prambanan temple compound. In 732 AD, the Shivaite King Sanjaya commissioned a Shivalinga sanctuary to be built on the Ukir hill, only 10 km (6.2 miles) east of Borobudur.

Construction of Buddhist temples, including Borobudur, at that time was possible because Sanjaya's immediate successor, Rakai Panangkaran, granted his permission to the Buddhist followers to build such temples. In fact, to show his respect, Panangkaran gave the village of Kalasan to the Buddhist community, as is written in the Kalasan Charter dated 778 AD. This has led some archaeologists to believe that there was never serious conflict concerning religion in Java as it was possible for a Hindu king to patronize the establishment of a Buddhist monument; or for a Buddhist king to act likewise.[24] However, it is likely that there were two rival royal dynasties in Java at the time—the Buddhist Sailendra and the Saivite Sanjaya—in which the latter triumphed over their rival in the 856 battle on the Ratubaka plateau.[25] This confusion also exists regarding the Lara Jonggrang temple at the Prambanan complex, which was believed that it was erected by the victor Rakai Pikatan as the Sanjaya dynasty's reply to Borobudur, but others suggest that there was a climate of peaceful coexistence where Sailendra involvement exists in Lara Jonggrang

Abandonment

Borobudur lay hidden for centuries under layers of volcanic ash and jungle growth. The facts behind its abandonment remain a mystery. It is not known when active use of the monument and Buddhist pilgrimage to it ceased. Somewhere between 928 and 1006, the center of power moved to East Java region and a series of volcanic eruptions took place; it is not certain whether the latter influenced the former but several sources mention this as the most likely period of abandonment.Soekmono (1976) also mentions the popular belief that the temples were disbanded when the population converted to Islam in the fifteenth century.

The monument was not forgotten completely, though folk stories gradually shifted from its past glory into more superstitious beliefs associated with bad luck and misery. Two old Javanese chronicles (babad) from the eighteenth century mention cases of bad luck associated with the monument. According to the Babad Tanah Jawi (or the History of Java), the monument was a fatal factor for a rebel who revolted against the king of Mataram in 1709. The hill was besieged and the insurgents were defeated and sentenced to death by the king. In the Babad Mataram (or the History of the Mataram Kingdom), the monument was associated with the misfortune of the crown prince of the Yogyakarta Sultanate in 1757. In spite of a taboo against visiting the monument, "he took what is written as the knight who was captured in a cage (a statue in one of the perforated stupas)". Upon returning to his palace, he fell ill and died one day later.

Buddha statues

Apart from the story of Buddhist cosmology carved in stone, Borobudur has many statues of various Buddhas. The cross-legged statues are seated in a lotus position and distributed on the five square platforms (the Rupadhatu level) as well as on the top platform (the Arupadhatu level).The Buddha statues are in niches at the Rupadhatu level, arranged in rows on the outer sides of the balustrades, the number of statues decreasing as platforms progressively diminish to the upper level. The first balustrades have 104 niches, the second 104, the third 88, the fourth 72 and the fifth 64. In total, there are 432 Buddha statues at the Rupadhatu level.[1] At the Arupadhatu level (or the three circular platforms), Buddha statues are placed inside perforated stupas. The first circular platform has 32 stupas, the second 24 and the third 16, that add up to 72 stupas. Of the original 504 Buddha statues, over 300 are damaged (mostly headless) and 43 are missing (since the monument's discovery, heads have been stolen as collector's items, mostly by Western museums).

At glance, all the Buddha statues appear similar, but there is a subtle difference between them in the mudras or the position of the hands. There are five groups of mudra: North, East, South, West and Zenith, which represent the five cardinal compass points according to Mahayana. The first four balustrades have the first four mudras: North, East, South and West, of which the Buddha statues that face one compass direction have the corresponding mudra. Buddha statues at the fifth balustrades and inside the 72 stupas on the top platform have the same mudra: Zenith. Each mudra represents one of the Five Dhyani Buddhas; each has its own symbolism. They are Abhaya mudra for Amoghasiddhi (north), Vara mudra for Ratnasambhava (south), Dhyana mudra for Amitabha (west), Bhumisparsa mudra for Aksobhya (east) and Dharmachakra mudra for Vairochana (zenith).

Read More......